Spesial Bab Jika Ago Sudah Berhasil Memulangkan Sayuri (Nama Alice yang sesungguhnya)

 

📖 Bab Khusus

Malam Ketika Ibu Mengetuk dari Balik Dunia


🌙 Ruang tamu kosong. Malam yang sangat sunyi.

Udara malam menyusup lewat jendela yang sedikit terbuka. Tirai tipis bergoyang perlahan, seperti tangan lembut yang mencoba membelai dinding kenangan. Ago duduk di kursi kayu yang menghadap jendela, hanya ditemani cahaya lilin di meja kecil. Rumah itu tidak berubah. Tapi juga tidak sama.

Di bawah meja, sebuah foto lama terbaring. Retak. Kusam. Tiga sosok—seorang pria, seorang wanita muda dengan mata sayu, dan seorang bayi di gendongannya. Ago menatap foto itu tanpa emosi.

Lalu tiba-tiba, udara di ruangan berubah.

Hening menjadi berat. Cahaya lilin bergetar, nyaris padam. Dan dari balik lorong gelap rumah itu—langkah pelan terdengar, tidak berat… tapi tidak bisa diabaikan.

Siluet muncul dari bayangan.

Warna putih kelabu menyelimuti sosoknya. Rambut panjang tergerai ke bahu. Matanya tajam, tapi tidak menyeramkan. Justru… penuh luka. Penuh keinginan yang tertunda.

"Ago…" bisiknya.

Ago tidak bergeming. Ia hanya memandang sosok itu. Lama. Dalam. Tenang.

"...Kau datang," jawabnya. Suaranya tidak dingin, tapi juga tidak hangat. Hanya… datar, seperti air yang sudah lama berhenti mengalir.

"Aku menunggumu." Hera—atau bayangannya—melangkah pelan, mendekat. Tidak menyentuh. Tidak memaksa. Hanya hadir. "Setelah semua yang terjadi… aku tak pantas muncul di hadapanmu. Tapi aku tetap di sini. Selalu."

Ago menoleh ke arah lilin, lalu kembali ke sosok ibunya. "Kenapa sekarang?"

Hera menunduk. "Karena ini pertama kalinya kau duduk di rumah ini… tanpa marah. Tanpa bertanya kenapa."

Ia berjalan sedikit lebih dekat. Nafasnya, meski tidak bernyawa, menghangatkan udara malam.

"Aku takut pada kelahiranmu, Ago. Aku takut pada diriku sendiri. Aku… aku merasa tubuhku melahirkan sesuatu yang akan menghancurkanku. Dan ketakutan itu membuatku buta. Aku tak melihatmu sebagai anak. Aku melihatmu sebagai bayangan."

Suaranya pecah.

"Aku menuduhmu. Membencimu. Lalu meninggalkanmu... saat kamu masih butuh pelukan pertamamu."

Ago menunduk. Tangannya mengepal di lutut. Tapi tidak berbicara.

"Aku tak bisa menebus itu. Tapi... aku bisa meminta sesuatu."

"Apa?" tanya Ago akhirnya.

"Maafkan aku. Bukan untuk membebaskan aku dari kutukan. Tapi untuk membebaskan kamu dari kutukan yang kutanam sendiri."

Hening panjang membungkus mereka berdua. Sampai akhirnya…

"...Aku tidak marah lagi," ucap Ago. "Tapi aku lelah membawa beban dari kata-kata yang tidak pernah selesai."

Hera mengangkat wajahnya. Mata yang tadinya berkaca, kini bersinar lembut.

"Kau… telah tumbuh. Bahkan tanpa aku."

"Aku tumbuh karena mereka yang memeluk luka yang tidak mereka buat," kata Ago, pelan. "Dan karena itu, aku bisa memaafkanmu. Tapi jangan datang lagi."

Hera mengangguk. Tidak kecewa. Tidak sedih.

Hanya… lega.

"Aku akan pergi. Tapi sekarang, bukan sebagai arwah. Bukan sebagai bayangan. Tapi sebagai ibu yang hanya ingin sekali… bisa melihat anaknya tumbuh, meski dari balik dunia."

Ia melangkah mundur, perlahan memudar. Namun sebelum lenyap sepenuhnya, ia berbisik:

"Terima kasih… Nak."

Api lilin berhenti bergetar. Tirai jatuh diam. Dan malam kembali menjadi malam.

Ago menutup matanya.

Akhirnya, tidak ada mimpi buruk lagi yang datang menghantui Ago di masa kecilnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monde de Rêves: Lost Memories -Prologue-

Monde de Rêves: Lost Memories | Episode 1 - Bayangan Yang Tidak Pernah Mati -