Monde de Rêves: Lost Memories -Prologue-

Musim salju belum mencapai puncaknya, namun jalanan kota telah memutih dibalut es dan kabut dingin. Angin menggigit kulit, menusuk tulang, dan udara mengambang sunyi seperti sedang menahan nafas.

Lalu terdengar suara benturan keras—diikuti oleh rem mendecit dan teriakan panik. Di tengah jalan raya yang berselimut salju, tubuh kecil seorang anak laki-laki tergeletak. Darah mengalir pelan dari kepalanya, menciptakan noda merah menyala di atas putihnya salju. Kontras yang mencolok. Tragis. Menyesakkan. Orang-orang segera berkerumun. "Astaga... itu anak kecil!" "Dia tertabrak truk... siapa orang tuanya?" "Kenapa bisa anak sekecil itu menyeberang sendirian di tengah jalan?" Beberapa orang mencoba menelepon ambulans. Seorang pria dewasa menghentikan lalu lintas. Tapi di tepi trotoar, seorang gadis kecil tampak ingin berlari ke arah tubuh anak laki-laki itu. “Ago—!!” Gadis itu berteriak. Tangannya ditarik keras oleh seorang wanita—ibunya—dan memaksanya menjauh dari kerumunan. "Atari pulang!" bentak sang ibu. "Tapi dia temanku! Dia terluka!" teriak gadis itu, berusaha melepaskan diri. "Aku bilang pulang!" Gadis itu terus menoleh ke belakang, matanya membelalak oleh air mata yang tak henti mengalir. Namanya Atari. Dan dia satu-satunya yang mencoba mendekati Ago.

Sementara itu, penglihatan Ago mengabur. Ia mengenali siluet itu. Gadis kecil dengan rambut biru yang ia kenal baik. Tapi wajahnya terdistorsi, kabur, terputus-putus. Hanya satu kata yang muncul di benaknya. "Atari..." Tapi mulutnya tak mampu bersuara. Dunia pelan-pelan runtuh dalam kabut putih dan merah. Nafasnya berat. Dan dalam kesunyian yang menyusul, hanya suara ibunya yang terngiang dalam benaknya. "Kau anak iblis. Pembawa sial." "Tak ada yang peduli padamu." "Kau pantas mati." Kemudian segalanya menghilang. Gelap. Hening.


...Keheningan. Bukan seperti tidur. Bukan pula seperti mati. Lebih seperti... hidup abadi namun kekal dan hampa. Ago tidak tahu berapa lama ia berada dalam kehampaan itu. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada suara. Tidak ada tubuh. Hanya kesadaran yang mengambang di ruang kosong, tanpa arah. Ago berdiri—atau merasa seperti berdiri—di sebuah padang hijau yang tak berujung. Tanahnya lembut, ditutupi rerumputan halus seperti beludru yang tumbuh liar. Warnanya hijau pekat—tidak seperti rumput biasa—melainkan hijau yang dalam, seperti dilukis dari ingatan masa kecil. Tidak ada jalan. Tidak ada batu. Tidak ada retakan. Tidak ada sungai. Tidak ada danau. Tidak ada satu pun aliran air. Namun tanah ini subur. Rumputnya tumbuh lebat dan rapi tanpa disentuh. Tak ada debu, tak ada bau basah, tak ada suara air menetes. Dan anehnya, tempat ini tidak mati. Ia hidup... dengan cara yang tidak bisa dijelaskan. Udara di sekitarnya bersih, namun hampa. Tidak dingin, tidak panas. Langit di atasnya bukan langit yang bisa dikenali. Ia bukan biru, bukan kelabu, tapi semacam campuran ungu dalam dan abu kabur—berubah-ubah perlahan seperti mimpi yang tidak pernah selesai. Dan dari langit itu... menggantung ribuan jendela. Jendela-jendela kayu dari berbagai era dan gaya arsitektur: Eropa tua, Jepang klasik, rumah-rumah modern. Ada yang terbuka, ada yang terkunci rapat. Beberapa berderit perlahan seolah hendak bicara, tapi urung. Semuanya mengambang dalam diam, membentuk lingkaran besar mengelilingi satu poros: pohon raksasa yang tumbuh dari langit.
Lalu, terdengar suara. "Anak kecil... sedang apa kau datang ke tempat ini?" Ago menoleh, perlahan. Di hadapannya berdiri seseorang—atau sesuatu. Makhluk itu tampak seperti malaikat dari dongeng, tapi dengan detail yang meresahkan. Rambutnya panjang, pirang keemasan, diikat rendah ke samping. Dari sisi kepalanya tumbuh dua tanduk kecil, berbentuk seperti kayu muda yang baru bercabang. Di atas kepalanya melayang sebuah halo—lingkaran cahaya tipis, nyaris tak tampak. Telinganya panjang dan runcing. Matanya tajam—warna hijau lemon menyala, dengan pupil sempit seperti ular. Dari punggungnya membentang sepasang sayap putih besar. Ia mengenakan pakaian aristokrat Eropa klasik, dihiasi bunga lili putih dan kancing emas tua. Elegan, bersih, tapi menyimpan bahaya samar dalam garis siluetnya. "Aku..." suara Ago kecil, serak, nyaris tidak terdengar. "Aku pikir aku sudah mati... Apa ini... surga?" Makhluk itu menyeringai tipis. "Bukan. Ini bukan surga. Dan jelas bukan neraka," jawabnya. "Ini... pertengahan." "Pertengahan... antara apa?" "Antara dua sisi. Di sinilah jiwa-jiwa yang tersesat berkumpul. Yang tidak tahu ke mana harus pergi. Yang kehilangan arah sebelum keputusan terakhir dijatuhkan." Ago menatap sekeliling. Ia perlahan mengangkat tangannya, menyentuh rerumputan lembut yang seakan menyambutnya tanpa suara. "Dunia ini aneh... hanya ada satu pohon besar dikelilingi rerumputan hijau dan di langit penuh jendela-jendela yang... melayang." "Setiap jendela menyimpan cerita," kata makhluk itu tenang. "Cerita-cerita yang terlupakan, dibuang, atau tidak pernah selesai. Dan pohon ini..."—ia melirik ke atas—"adalah tempat di mana semua cerita itu disimpan. Ia bukan hanya rumahku. Ia adalah ruang antara hidup dan mati. Antara kenangan dan kehampaan." Ago perlahan mundur setengah langkah. "Apa aku... mati?" "Bukan. Kau nyaris," jawab makhluk itu. "Jiwamu retak. Tubuhmu terkapar di antara kehidupan dan koma. Tapi saat kau masuk ke sini, sesuatu mengikutimu. Sebuah celah terbuka. Dan aku menyadarinya." "Kau siapa...?" Makhluk itu menyentuh dadanya dengan satu tangan, memberi salam singkat seperti bangsawan. "Lucifer. Penjaga perpustakaan dunia ini. Aku menyimpan jiwa, cerita, dan rahasia yang tak ingin diketahui dunia luar." Lucifer berjalan perlahan ke arah Ago, langkahnya nyaris tanpa suara di atas rumput. "Dan kau, tuan muda, adalah jiwa yang belum siap menentukan takdir." "...Aku tidak mengerti." "Kau tidak harus mengerti sekarang. Kau masih terlalu kecil. Bahkan terlalu lemah untuk membuat kontrak." Lucifer menatapnya dengan tajam. "Tapi kau... menarik. Ada sesuatu di dalam dirimu yang mengusik struktur tempat ini. Jiwa anak kecil seharusnya tidak bisa mencapai dunia ini. Tapi kau... berhasil. Itu menakutkan sekaligus menggembirakan." "...Kontrak apa?" tanya Ago, pelan. Lucifer hanya tertawa kecil. "Nanti saja. Tidurlah dulu. Kesadaranmu terlalu rapuh untuk mempertahankan percakapan panjang." "Aku tidak ingin tidur..." "Tapi dunia sudah memilih." Lucifer mengangkat tangan, dan udara di sekitar Ago berubah. Berat. Lembut. Menghipnosis. "Aku akan menyimpan jiwamu sementara. Dan aku sendiri... akan mulai mencari jawaban atas kenapa kau bisa datang ke sini." Tubuh Ago terasa berat dalam waktu yang bersamaan. Kelopak matanya tertutup, dan untuk pertama kalinya... bukan karena luka atau trauma. Tapi karena ia benar-benar merasa letih, seperti seorang anak kecil seharusnya. Seluruh tubuhnya terselimuti oleh akar pohon secara perlahan. Cahaya samar menembus kelopak matanya, menusuk perlahan seperti pisau tumpul yang menyibak kegelapan lama. Sesuatu bergerak dalam dirinya—halus, pelan, tapi cukup nyata untuk mengguncang dunia yang selama ini beku. Mata Ago perlahan terbuka. Kesadarannya terasa berat, seolah sedang berenang menembus kabut tebal yang melingkupi pikirannya selama bertahun-tahun. Ia mencoba mengangkat tangan, dan jari-jarinya menegang pelan—gerakan kecil. Seseorang yang duduk di sisi ranjang langsung terkejut melihatnya. Pemuda itu—yang selama ini setia menunggu—terperanjat. Matanya membelalak, tubuhnya seolah tertarik oleh gravitasi baru. Ia melompat dari kursi dan berlari keluar ruangan tanpa menoleh. “DOKTER!” suaranya menggema di lorong rumah sakit yang lengang. Beberapa detik kemudian, ruangan yang sunyi berubah menjadi pusat badai. Langkah-langkah tergesa, bisikan tegang, dan suara alat medis menyatu menjadi kekacauan hening. Seorang dokter tua masuk, wajahnya menyimpan keraguan yang telah bertahun-tahun tumbuh menjadi harapan yang nyaris ditinggalkan. Lalu datang kabar itu. “Ago siuman.” Namun, meski tubuhnya terbangun... sesuatu di dalam dirinya tidak ikut kembali. Ago menoleh pelan. Di samping ranjang, ada sebuah cermin kecil menempel di dinding. Ia menatapnya lama. Wajah dalam pantulan itu memandang balik, tapi tampak asing. Kulit pucat. Rambut memanjang berantakkan. Sorot mata kosong seperti danau beku yang kehilangan dasar. Mulutnya terbuka sedikit. Suara yang keluar nyaris tak terdengar. "Aku siapa? Aku dimana? Kalian siapa?"

Tidak ada jawaban. Hanya dentingan pelan alat pemantau jantung yang berdetak stabil, seperti menyindir: tubuh ini hidup, tapi jiwanya tersesat entah ke mana. Tiba-tiba, denyut nyeri mencengkeram kepalanya. Ia meringis, dan tubuhnya limbung. Dunia di sekeliling berputar dan berguncang. Kepala terasa lebih sakit daripada dicubit. "A-Agh...!" Pemuda yang tadi kembali masuk ruangan segera bergerak. Dengan cekatan ia menangkap tubuh Ago yang nyaris terjatuh dari tempat tidur, lalu membaringkannya kembali. Wajahnya pucat, tapi tatapannya tegas. “Sabar... tenang. Kau aman sekarang…” Tapi kata-kata itu terdengar jauh. Jauh sekali. Di luar ruangan, suara langkah kaki dokter dan perawat mendekat. Pertanyaan-pertanyaan mulai membentuk barisan, siap menyerbu satu demi satu. Ago bertanya pada gadis itu, "Kamu siapa?" "Aku Kurenai. Tenang ya Nagoya-kun. Jangan paksakan dirimu." Kurenai berusaha menenangkan Ago. Ago bertanya pada Kurenai dengan rasa bingung sambil menahan rasa sakit. "Namaku? Nagoya?" Kurenai menjawab dengan tenang, "Ya. Hiraga Nagoya."

Setelah tubuhnya cukup kuat untuk berdiri dan berjalan, Ago akhirnya dipulangkan—namun bukan ke rumah yang pernah ia tinggali. Rumah itu, entah di mana sekarang. Atau lebih tepatnya, ia bahkan tak tahu bentuknya seperti apa. Semua kenangan tentang “rumah” telah lenyap dari kepalanya. Sebagai gantinya, ia tinggal sementara di kediaman sepupunya, Kurenai. Rumah itu besar, bersih, dan tercium wangi kapur barus di setiap sudut. Dindingnya dihiasi salib, lukisan Yesus dan potret keluarga bergaya formal. Kurenai berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya seorang dokter bedah yang jarang pulang. Ibunya, seorang aktivis gereja, sibuk mengurusi kegiatan amal dan yayasan pendidikan. Di rumah itu, meski tidak kekurangan apa pun... Ago merasa seperti tamu. “Kamu tinggal di sini sementara, ya!” kata Kurenai saat menyambutnya masuk. Senyumnya tampak ramah, tapi nada suaranya menyimpan kecemasan samar—seperti seseorang yang mencoba menyambut tanpa tahu harus bersikap seperti apa. Ago hanya mengangguk pelan. Ia tidak tahu harus berkata apa. Dunia ini asing. Orang-orang di dalamnya asing. Bahkan dirinya sendiri... terasa asing.

Seminggu kemudian, Kurenai dan orang tuanya mendaftarkan Ago untuk menjalani ujian penempatan pendidikan. Tes ini mencakup seluruh pelajaran dasar dari kelas satu sampai kelas enam sekolah dasar. Tes yang seharusnya mengukur seberapa banyak yang ia ingat—meski semua orang tahu, dia tak mengingat apa-apa. Namun hasilnya... mengejutkan. Ago tidak hanya lulus. Ia menyapu bersih semua soal dalam waktu jauh lebih cepat daripada siswa pada umumnya. Skornya melebihi hampir seluruh standar nilai rata-rata nasional. "Ini... nggak mungkin," gumam Tamaki, adik perempuan Kurenai. Ia menatap lembar hasil tes di tangannya, lalu melihat ke arah Ago yang sedang duduk diam di ujung ruangan. "Dia bahkan... nggak belajar apa-apa seminggu ini, kan?" "Waaahh!! Ago hebat!!” seru Kurenai dari belakang, bersandar di pintu sambil membawa dua gelas susu hangat. “Serius... aku nggak nyangka. Kamu jenius sekali!” Ago tidak menjawab. Ia hanya menunduk, sedikit bingung, sedikit tertekan. Ada sesuatu yang bekerja dalam dirinya. Sesuatu yang terasa seperti mesin, bukan ingatan. Ia tidak tahu dari mana pengetahuan itu datang—tapi jawabannya selalu muncul begitu saja. Tanpa proses. Tanpa upaya.

Dengan hasil luar biasa itu, nama Ago segera diterima oleh Akademi Renshia—sebuah sekolah swasta elite yang khusus mendidik murid berbakat. Sekolah itu terbagi menjadi dua tingkat kelas: kelas normal dan kelas elit. Siswa dengan nilai biasa masuk jalur umum. Tapi siswa dengan hasil luar biasa seperti Ago langsung masuk ke kelas elit, di mana setiap mata pelajaran diajarkan dalam kedalaman yang menyerupai universitas miniatur. Meski biaya sekolah itu tergolong mahal, masalah itu segera teratasi. Yayasan pendidikan milik ibu Kurenai—yang juga bagian dari jaringan gereja sosial—memberikan beasiswa penuh untuk Ago. Semua kebutuhan pendidikannya ditanggung sepenuhnya, dengan satu syarat: "Jaga nilaimu. Dan jangan pernah mundur dari kelas elit." Begitulah awal kehidupan baru Ago dimulai. Ia masuk sekolah sebagai seorang anak laki-laki dengan nama lengkap yang tidak ia pahami, kemampuan yang tidak ia kenali, dan masa lalu yang tak bisa ia sentuh—seolah hidup dengan kulit orang lain.

-To Be Continue-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Monde de Rêves: Lost Memories | Episode 1 - Bayangan Yang Tidak Pernah Mati -

Spesial Bab Jika Ago Sudah Berhasil Memulangkan Sayuri (Nama Alice yang sesungguhnya)