Di sisi lain kota, matahari pagi menyusup lembut ke celah tirai kamar kecil berisi poster-poster seni bela diri dan kalender bertema bunga sakura. Atari berdiri di depan cermin, menguncir rambut dengan semangat. Empat belas tahun. Sudah cukup lama sejak semuanya berubah.
Atari lolos masuk Akademi Renshia—meski bukan di kelas elit seperti yang diidamkan banyak siswa. Ia berada di kelas 3-B tingkat normal, sebuah jalur masuk yang ia dapat bukan karena nilai akademik, tapi karena prestasi bela diri. Kemampuan karatenya membuatnya berbeda—tapi yang benar-benar membuatnya dikenang adalah sifatnya yang selalu ceria, terbuka, dan penuh semangat hidup.
Di sekolah, Atari adalah pusat perhatian kecil. Ia tidak pernah kesulitan mencari teman bicara, dan selalu punya lelucon baru setiap pagi.
Pagi itu, sambil menyampirkan tas di bahunya, Atari melangkah keluar rumah dengan langkah ringan. Udara pagi di Tokyo terasa sedikit dingin, tapi tidak cukup untuk meredam semangatnya.
“Gak kerasa sebentar lagi ujian kelulusan SMP,” gumamnya sambil melangkah menuruni tangga rumah. “Aku gak sabar ingin pindah ke Chiba. Mulai dari nol, dunia baru, hidup baru...”
Langkahnya mantap menyusuri trotoar, melewati gerbang kayu tua, menyusuri jalanan yang mulai dipadati siswa berseragam. Namun, ketika ia hendak menyeberang jalan menuju halte bus, tubuhnya mendadak kaku.
Dari sudut matanya, ia melihat sesuatu.
Seorang anak laki-laki.
Kecil, sekitar usia lima tahun. Berambut gelap. Mata hijau gelap. Ia mengenakan pakaian musim dingin—jaket merah tua dan syal usang. Anak itu berdiri di sisi jalan, menatap lurus ke arah Atari, lalu tersenyum dan mulai berlari memutar, seperti sedang bermain di tengah lapangan salju.
Lalu dia berhenti.
Menatap Atari berkata dengan suara lembut yang penuh kerinduan:
"Kak Atari!"
Atari tertegun. Wajah anak itu... tidak asing.
Tidak mungkin. Tidak sekarang.
Sorot mata itu—mata yang dulu ia lihat dalam genangan darah. Mata yang menatap kosong ke langit bersalju, tubuhnya tergeletak tak bergerak...
Jantungnya berdetak liar. Dunia berputar. Nafasnya tercekat.
"A-Ago..." bisiknya, tubuhnya mundur setengah langkah.
Bayangan itu tak bergerak. Tetap menatapnya.
Atari menjerit kecil, lalu berbalik dan berlari secepat yang ia bisa.
Orang-orang di jalan menoleh. Seorang ibu mengangkat alis. Seorang siswa lain hampir tertabrak saat Atari melewatinya seperti angin.
“Eh, itu Atari, ya?”
“Kenapa dia lari gitu?”
“Muka dia... nangis? Diputusin pacar, kali.”
Namun Atari tak mendengar apa-apa.
Pikirannya hanya dipenuhi satu suara: jeritan dalam kepalanya sendiri.
“Hentikan... jangan menghantuiku...!!”
Air mata mengalir tanpa bisa ia hentikan. Ia tidak tahu ke mana harus lari. Tapi ia tahu satu hal:
Bayangan itu belum mati.
Kelas 3-B mulai ramai. Suara tawa ringan, langkah kaki masuk, dan kursi-kursi yang diseret pelan mengisi ruangan seperti biasa. Semua tampak berjalan normal... sampai pintu terbuka keras.
Atari berdiri di ambang pintu—bernapas tersengal, wajahnya pucat dan terbasahi oleh keringat dan air mata.
Seluruh kelas terdiam.
“Selamat pagi! Eh?... Atari?” Mariana berdiri dari kursinya, alisnya mengernyit.
Atari tidak menjawab. Ia hanya menunduk dan masuk pelan ke dalam ruangan, seperti sedang mencoba menahan ledakan dalam dadanya. Langkahnya gemetar. Beberapa siswa saling menatap bingung. Ada yang bisik-bisik. Tapi Mariana segera mendekat dan memeluknya erat.
“Hey, hey... ada apa denganmu, Atari?” suaranya lembut, penuh kehangatan.
Di belakangnya, Nanami ikut merapat, menepuk lembut pundak Atari. “Tenangkan dirimu dulu, kawan...”
Atari tidak bisa menahan lagi. Tubuhnya melemas, dan Mariana serta Nanami menopangnya, membimbingnya menuju bangku kosong dekat jendela.
Mariana menarik kursi, membantu Atari duduk perlahan. “Minum dulu,” katanya sambil menyodorkan botol minum dari tasnya.
Atari mengambilnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia meneguk perlahan, membiarkan air itu mengalir dan menenangkan tenggorokannya yang kering. Setelah beberapa saat, napasnya mulai tenang.
Ia menunduk, membisu. Lalu akhirnya bicara—suara itu nyaris pecah.
“Aku... dihantui oleh masa kecilku. Masa kecil yang sangat kelam.”
Mariana dan Nanami saling menatap. Ekspresi mereka berubah—dari bingung menjadi cemas.
“Setiap aku ingat wajah itu... wajahnya... yang bersimbah darah...” Atari menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar. “Aku merasa bersalah. Waktu itu aku tidak bisa membantunya. Aku... cuma anak kecil yang takut... dan aku lari.”
Ruangan hening. Hanya suara kipas langit-langit yang berputar lambat di atas mereka.
Mariana mengelus punggung Atari pelan. “Apa ini tentang... seseorang dari masa lalu?”
Atari tidak menjawab. Tapi diamnya sudah cukup menjelaskan.
Nanami duduk di sebelahnya, menggenggam tangannya sendiri erat, seakan mencoba menyalurkan keberanian lewat udara.
“Kalau kamu ingin cerita... kapan pun, kami ada di sini, Atari.” bisik Mariana.
Atari tidak berkata apa-apa lagi. Tapi untuk pertama kalinya sejak ia berlari pagi itu, ia tidak merasa sendirian.
Kelas sudah mulai tenang. Mariana dan Nanami masih duduk di dekat Atari, mencoba menormalkan kembali suasana hatinya. Atari sendiri hanya menatap jendela dengan tatapan kosong, pikirannya berputar pada masa lalu yang belum tuntas.
Tiba-tiba, pintu kelas terbuka cepat.
“TEMAN-TEMAN!!” seru Tatsuki, salah satu murid paling ceria dan berisik di kelas 3-B. Suaranya memenuhi ruangan seperti sirene kecil, membuat beberapa kepala langsung menoleh. Ia melangkah cepat, hampir seperti berlari meskipun hanya berjalan biasa. Rambut pendeknya yang berwarna ungu terang sedikit bergoyang saat ia masuk, dan di atas kepalanya, bando pita hitam bertengger manis, memberi kontras lucu terhadap wajahnya yang selalu penuh ekspresi.
Nanami memutar tubuhnya, setengah tertawa. “Kabar buruk? Atau kabar baik?”
Tatsuki mencibir sambil menaruh tasnya. “Biasa aja sih. Tapi ini menarik. Ada murid baru di kelas 1-A.”
“Kelas elit?” tanya Mariana sambil mengangkat alis.
“Yep!.”
Nanami mencondongkan tubuh. “Cowok atau cewek?”
“Laki-laki,” jawab Tatsuki sambil menggulung rambutnya ke jari. “Pendek. Pakai kacamata. Mukanya... i-mu-u-u-t-t-t banget!”
“Heh?” Nanami berkedip lambat. “Imut katanya...?”
Mariana tertawa kecil. “Namanya siapa?”
Tatsuki menaruh jari telunjuk di dagunya, pura-pura berpikir. “Hmm... biar kuingat-ingat... oh! Namanya Hiraga Nagoya!”
Waktu seolah membeku bagi Atari.
Kata itu—nama itu—menamparnya keras. Hiraga Nagoya.
Suara yang pernah memanggilnya di lapangan bermain. Anak yang pernah tertawa di sisinya. Mata hijau gelap yang dulu ia lihat memudar dalam genangan darah...
“Hiraga Nagoya... jangan-jangan... A-Ago...”
Pikirannya mendadak kosong. Ia menelan ludah. Tangannya bergetar.
Nanami memperhatikan. “Atari? Wajahmu... kok malah tambah pucat?”
Mariana menoleh cepat. “Kau baik-baik saja?”
Atari tidak menjawab.
Ia berdiri. Kursinya tergeser pelan, menimbulkan bunyi berderit. Lalu, tanpa sepatah kata pun, ia berlari keluar kelas.
“Eh—Atari??!” seru Nanami.
“Ke mana dia?” Mariana bangkit setengah.
Tatsuki mengerutkan dahi. “Apa aku salah ngomong...?”
Tapi Atari tidak peduli. Kakinya melaju di lorong seperti tertarik oleh magnet tak kasatmata. Tujuannya jelas: Kelas 1-A Elit.
Ia tidak tahu siapa yang akan ia lihat di sana. Tapi nama itu telah membuka kembali sesuatu yang selama ini coba ia kubur dalam.
Lorong sekolah pagi itu dipenuhi suara langkah, obrolan, dan desiran sepatu menyentuh lantai. Tapi Atari tidak mendengar apa-apa. Dunia seolah menyempit menjadi satu garis: dari pintu kelas 3-B... menuju pintu di sebelahnya.
Kelas 1-A (Elit).
Tanpa mengetuk. Tanpa ragu. Tanpa peduli aturan, Atari langsung membuka pintu.
"Permisi," katanya—atau lebih tepatnya, menerobos masuk begitu saja.
Para murid di dalam kelas langsung menoleh. Beberapa mengangkat alis, beberapa saling berbisik heran. Kelas elit biasanya tenang, disiplin, dan tertutup dari keramaian kelas lain. Tapi kali ini, ada seorang siswi kelas atas yang menyelonong masuk seperti angin badai.
Atari menyentil kerumunan yang mengelilingi bangku tengah. Beberapa siswa bergeser dengan ekspresi tidak senang.
“Hei, hei! Itu murid dari kelas sebelah, ya?”
“Ngapain dia di sini?”
“Gak sopan banget...”
Namun Atari tidak mendengar apa pun. Tatapannya terkunci.
Di tengah kerumunan itu—dia melihatnya.
Ago.
Rambutnya masih coklat tapi tersisir menyamping rapi. Tubuhnya sedikit tumbuh karena kelamaan koma, tapi wajah itu… wajah itu tak berubah. Wajah yang dulu bersimbah darah di tengah salju, kini hidup kembali dengan seragam rapi. Tapi ekspresinya...
...asing.
Air mata menetes dari mata Atari, tanpa ia sadari. Langkahnya melambat. Ia menatapnya lama, dadanya naik-turun. Mulutnya terbuka, namun tak ada suara yang bisa keluar.
Ago menatap balik—lurus, datar. Ekspresinya berubah jadi kerut kesal. Suasana hatinya yang sejak tadi tidak nyaman berubah menjadi ketegangan.
“Kenapa kalian semua melihatku seperti itu?” suaranya meninggi. Ia berdiri dari kursinya, pandangan menyapu seluruh kelas. “Aku bilang... aku tidak suka keramaian...”
Lalu matanya menatap langsung ke Atari.
Sorot mata itu tajam. Bukan karena marah. Tapi karena... ia tidak tahu siapa gadis yang menangis di depannya.
“…Dan kamu,” katanya, menunjuk Atari, “yang menatapku sampai pucat begitu—kamu siapa?”
Atari terdiam.
Satu kalimat sederhana itu menghantamnya lebih keras daripada kecelakaan bertahun-tahun lalu. Kamu siapa. Dari bibir orang yang dulu memanggilnya Kak Atari, yang dulu menggenggam tangannya dan tertawa.
Namun sekarang... ia bahkan tak dikenali. Fix Ago amnesia.
-Bersambung-
Komentar
Posting Komentar