Postingan

Spesial Bab Jika Ago Sudah Berhasil Memulangkan Sayuri (Nama Alice yang sesungguhnya)

  đŸ“– Bab Khusus Malam Ketika Ibu Mengetuk dari Balik Dunia đŸŒ™ Ruang tamu kosong. Malam yang sangat sunyi. Udara malam menyusup lewat jendela yang sedikit terbuka. Tirai tipis bergoyang perlahan, seperti tangan lembut yang mencoba membelai dinding kenangan. Ago duduk di kursi kayu yang menghadap jendela, hanya ditemani cahaya lilin di meja kecil. Rumah itu tidak berubah. Tapi juga tidak sama. Di bawah meja, sebuah foto lama terbaring. Retak. Kusam. Tiga sosok—seorang pria, seorang wanita muda dengan mata sayu, dan seorang bayi di gendongannya. Ago menatap foto itu tanpa emosi. Lalu tiba-tiba, udara di ruangan berubah. Hening menjadi berat. Cahaya lilin bergetar, nyaris padam. Dan dari balik lorong gelap rumah itu—langkah pelan terdengar, tidak berat… tapi tidak bisa diabaikan. Siluet muncul dari bayangan. Warna putih kelabu menyelimuti sosoknya. Rambut panjang tergerai ke bahu. Matanya tajam, tapi tidak menyeramkan. Justru… penuh luka. Penuh keinginan yang tertunda. "Ago…...

Monde de RĂªves: Lost Memories | Episode 1 - Bayangan Yang Tidak Pernah Mati -

Di sisi lain kota, matahari pagi menyusup lembut ke celah tirai kamar kecil berisi poster-poster seni bela diri dan kalender bertema bunga sakura. Atari berdiri di depan cermin, menguncir rambut dengan semangat. Empat belas tahun. Sudah cukup lama sejak semuanya berubah. Atari lolos masuk Akademi Renshia—meski bukan di kelas elit seperti yang diidamkan banyak siswa. Ia berada di kelas 3-B tingkat normal, sebuah jalur masuk yang ia dapat bukan karena nilai akademik, tapi karena prestasi bela diri. Kemampuan karatenya membuatnya berbeda—tapi yang benar-benar membuatnya dikenang adalah sifatnya yang selalu ceria, terbuka, dan penuh semangat hidup. Di sekolah, Atari adalah pusat perhatian kecil. Ia tidak pernah kesulitan mencari teman bicara, dan selalu punya lelucon baru setiap pagi. Pagi itu, sambil menyampirkan tas di bahunya, Atari melangkah keluar rumah dengan langkah ringan. Udara pagi di Tokyo terasa sedikit dingin, tapi tidak cukup untuk meredam semangatnya. “Gak kerasa sebentar...

Monde de RĂªves: Lost Memories -Prologue-

Gambar
Musim salju belum mencapai puncaknya, namun jalanan kota telah memutih dibalut es dan kabut dingin. Angin menggigit kulit, menusuk tulang, dan udara mengambang sunyi seperti sedang menahan nafas. Lalu terdengar suara benturan keras—diikuti oleh rem mendecit dan teriakan panik. Di tengah jalan raya yang berselimut salju, tubuh kecil seorang anak laki-laki tergeletak. Darah mengalir pelan dari kepalanya, menciptakan noda merah menyala di atas putihnya salju. Kontras yang mencolok. Tragis. Menyesakkan. Orang-orang segera berkerumun. "Astaga... itu anak kecil!" "Dia tertabrak truk... siapa orang tuanya?" "Kenapa bisa anak sekecil itu menyeberang sendirian di tengah jalan?" Beberapa orang mencoba menelepon ambulans. Seorang pria dewasa menghentikan lalu lintas. Tapi di tepi trotoar, seorang gadis kecil tampak ingin berlari ke arah tubuh anak laki-laki itu. “Ago—!!” Gadis itu berteriak. Tangannya ditarik keras oleh seorang wanita—ibunya—dan memaksanya men...